
Pada waktu sebelum UAS, aku diajak ke Coban Talun bersama teman-teman satu himpunan namanya HIMAMASTER (Himpunan Mahasiswa Matematika, Statistika, dan Ilmu Komputer). Kami berangkat pukul 20.00 dari kampus tercinta Brawijaya University. Aku berangkat bersama naik angkot yang sudah disewa. Banyak juga yang bawa sepeda motor sendiri. Didalam angkot ada 16 orang, padahal angkot biasanya cuma 12 orang, jadi berdesak-desakkan didalam angkot. Perjalanan sekitar 1 jam akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Disana aku tertegun melihat alam yang sesungguhnya di waktu malam hari. Apalagi aku sangat ingin berjalan-jalan di daerah Batu pada malam hari. Sungguh pas keadaannya. Didepan gerbang pintu masuk suasananya amat tenang. Yang terlihat hanya keadaan gelap gulita tanpa penerangan, bulan pun tertutup mendung. Sungguh alam yang sesungguhnya buat dinikmati suasananya. Dalam perjalanan masuk melewati jalan yang gelap gulita, aku membayangkan bagaimana para pengembara spiritualis (wali songo) mendapatkan spiritual yang luar biasa. Mereka bertapa 40 hari 40 malam ditengah alam bebas tanpa ada manusia disampingnya. Mereka benar-benar kuat dengan tirakatnya yang begitu besar. Subhanallah sungguh luar biasa orang-orang seperti itu. Namun orang-orang saat ini sering terlenakan dengan keadaan yang serba instan. Mereka terbuai dengan keadaan jaman yang serba ada seolah-olah tidak ingin repot. Padahal untuk mencapai tujuan, kita harus melalui proses. Allah saja mewajibkan hamba-Nya untuk berikhtiar walaupun akhirnya yang menentukan hanyalah Allah semata. Semoga kita tergolong orang-orang sabar dalam berproses.